Menu

Mode Gelap
Kejati Jabar Gelar Kegiatan Penyuluhan Hukum Jaksa Masuk Sekolah di SMPN 1 Padalarang Kolaborasi CSA Indonesia, Q-SYS, dan Shure Hadirkan Pusat Teknologi Terintegrasi Jaksa Sahabat Guru Ciptakan Sekolah yang Aman dan Nyaman, Anti Bullying serta Anti Kekerasan Gentra Lestari Budaya hadir di Paguyuban BANDUNGARIUNG Membawa UMKM Lokal ke Global Ketua Umum DePA-RI Minta Menteri Haji Tidak Ceroboh Soal War Tiket Haji Road to YKABF 2026 Digelar, Picu Antusiasme Menuju Perhelatan Utama

Artikel

Gabungkan Ilmu Psikologi dan Antropologi, Prof. Subandi Kembangkan Terapi Kesehatan Mental Berbasis Budaya

badge-check

Gabungkan Ilmu Psikologi dan Antropologi, Prof. Subandi Kembangkan Terapi Kesehatan Mental Berbasis Budaya Perbesar

SAMBAS MEDIA – Berangkat dari kecintaannya pada ilmu antropologi sejak di bangku SMA, Subandi tetap mempelajari ilmu tersebut meski ia sudah kuliah di prodi Psikologi Universitas Gadjah Mada. Saat lulus dan melamar menjadi dosen, Subandi menggabungkan kedua ilmu tersebut untuk terapi kesehatan mental berbasis budaya dan spiritual.

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM ini menceritakan perjalanan panjang kariernya sebagai akademisi. Mengabdi sejak tahun 1986, ia menjalankan berbagai kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, terutama di bidang penelitian. Meskipun berlatar belakang psikologi, ia memiliki ketertarikan besar terhadap antropologi dan didukung dengan kesenangannya untuk menulis. Setelah mengikuti saran dari gurunya untuk mengambil prodi Psikologi UGM dan dinyatakan lolos sebagai mahasiswa, ia tetap mengeksplorasi antropologi melalui penelitian dan kolaborasi internasional selama puluhan tahun hingga saat ini.

Kecintaannya terhadap antropologinya semakin mendalam ketika ia bekerja sama dengan antropolog luar negeri. Pada tahun 1996, ia menjadi asisten Prof. Byron Good, seorang antropolog kesehatan mental dari Harvard University. “Kolaborasi ini berlangsung lebih dari 25 tahun dan menghasilkan berbagai penelitian mendalam tentang kesehatan mental dalam perspektif budaya,” kenangnya, Sabtu (11/1).

Selain itu, Prof. Subandi juga pernah bekerja sama dengan Dr. Julia Howell dari Griffith University di Australia selama lima tahun. Kolaborasi ini mengintegrasikan pendekatan antropologi dalam riset kesehatan mentalnya, termasuk pengembangan sistem layanan kesehatan mental berbasis budaya dan spiritualitas, “Kami tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga melakukan action research sehingga penelitian kamu langsung berdampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketua Umum DePA-RI Minta Menteri Haji Tidak Ceroboh Soal War Tiket Haji

16 April 2026 - 09:00 WIB

Senior, Mentor dan Guru

4 April 2026 - 13:00 WIB

TOGA Tanaman yang Memiliki Khasiat Kesehatan Bisa Ditanam secara Mandiri

3 April 2026 - 09:00 WIB

Top 10 Rektor PTS dengan H-Index Tertinggi di Indonesia, 50% Dikuasai Pengurus APTISI Jabar

12 Maret 2026 - 13:00 WIB

LANGKAH PROGRESIF TRUMP DAN PRABOWO

9 Maret 2026 - 12:40 WIB

Trending di Artikel