Popularitas olahraga lari meningkat terutama dalam 3–4 tahun terakhir seiring berkembangnya budaya wellness, media sosial, dan gaya hidup kelas menengah urban.
Fenomena ini dapat dibaca melalui teori identity consumption dari Arnould dan Thompson (2021) yang menjelaskan bahwa masyarakat urban modern cenderung membangun identitas sosial melalui konsumsi simbolik atas aktivitas tertentu. Dalam konteks ini, event lari tidak lagi sekadar olahraga, melainkan menjadi bagian dari citra gaya hidup urban modern: tentang visual media sosial, eksistensi komunitas, personal branding, hingga simbol status sosial kelas menengah perkotaan.
Karena itu, kultur lari urban berkembang sangat cepat melalui media sosial dan tren digital, tetapi belum tentu memiliki keterhubungan historis dengan identitas lokal masyarakat Bandung.
Hal ini berbeda secara fundamental dengan Persib yang memiliki legitimasi historis dan akar kultural yang jauh lebih mendalam.
Dalam perspektif Jean Baudrillard (1998), fenomena tersebut juga dapat dipahami sebagai bagian dari consumer society, yaitu masyarakat yang mengonsumsi simbol dan citra sosial sebagai bagian dari pembentukan identitas diri.

























