Sebaliknya, Persib memiliki dampak sosial yang jauh lebih luas dibanding sekadar ekonomi event. Dalam perspektif Emile Durkheim (1912), solidaritas sosial terbentuk melalui simbol kolektif yang mampu menyatukan masyarakat dalam kesadaran bersama. Persib menjalankan fungsi itu di Bandung.
Persib bukan hanya institusi olahraga, tetapi simbol kohesi sosial masyarakat Sunda dan warga Bandung lintas kelas. Di stadion, di jalanan, maupun di ruang sosial sehari-hari, Persib menjadi medium pemersatu identitas kolektif masyarakat.
Jika berbicara mengenai sport tourism, sesungguhnya Persib merupakan aset sport tourism paling autentik yang dimiliki Bandung. Atmosfer pertandingan, sejarah klub, kultur bobotoh, dan loyalitas masyarakat memiliki nilai budaya yang jauh lebih kuat dibanding event olahraga yang bersifat musiman dan trend-driven.
Dalam konteks ini, Bandung tidak membutuhkan identitas olahraga artifisial yang dibangun melalui tren global semata. Kota ini sejak lama telah memiliki identitas olahraga organik yang tumbuh dari masyarakatnya sendiri, dan identitas itu adalah Persib.
























